Sazila Karina Rahman. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Esterifikasi Asam Asetat Etanol



LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK
(HKKK 213P)
  Disusun Oleh :
       SAZILA KARINA RAHMAN          (H1D112010)
                                  
PROGRAM STUDI S1 TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK 
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT 
BANJARBARU
2013







ABSTRAK

Percobaan ini bertujuan untuk menghitung konversi reaksi pada esterifikasi asam asetat-etanol dengan katalisator asam sulfat dan menentukan konstanta kecepatan reaksi pada reaksi esterifikasi asam asetat dengan etanol pada perbandingan mol tertentu. Macam-macam ester tersebut diproduksi dari asam karboksilat dan alkohol melalui reaksi esterifikasi. Oleh karena itu, kita perlu mempelajari reaksi esterifikasi dalam skala laboratorium. Selain itu, juga perlu mengetahui aplikasinya dalam kehidupan nyata.
Percobaan mencakup enam pengamatan, yaitu standarisasi larutan NaOH, pembuatan cuplikan, penentuan kadar asam asetat awal, penentuan larutan KOH alkoholisis (blanko), penentuan ekivalen asam total, dan penentuan ekivalen asam bebas. 
Dari percobaan diperoleh nilai Ao, At, dan Aa untuk menghitung konversi reaksi. Nilai Ao didapat dari konsentrasi asam asetat mula-mula, At dari konsentrasi asam total, dan Aa dari konsentrasi asam bebas. Konversi yang didapat adalah 19,2513%.

Kata kunci : ekivalen, konversi, ester, reversibel







PERCOBAAN 3
ESTERIFIKASI ASAM ASETAT - ETANOL


3.1 PENDAHULUAN

3.1.1 Tujuan Percobaan
Menghitung konversi reaksi pada esterifikasi asam asetat - etanol dengan katalisator asam sulfat secara tidak langsung dari nilai ekivalen asam bebas dan asam total.

3.1.2 Latar Belakang
            Senyawa ester terbentuk dari hasil reaksi antara senyawa asam karboksilat dengan senyawa alkohol yang direaksikan dengan katalis asam mineral pekat, serta digunakan gas hidrogen klorida pada senyawa ester siklik. Reaksi erterifikasi akan berjalan lancer jika dilakukan penambahan salah satu zat pereaksi secara berlebih, pengadukan dan pemanasan.
            Ciri khas ester yaitu memiliki berat molekul rendah, berbau harum, dan sebagai esens. Reaksi esterifikasi bersifat reversible sehingga tidak semua reaktan menjadi produk. Dalam aplikasinya senyawa ester terdapat pada industri kimia sebagai hidrolisis lemak bebas, MAG, DAG, dan gliserol. Oleh karena itu percobaan ini penting untuk dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan.
            Dalam dunia industri, ester digunakan sebagai penambahan aroma pada makanan dan minuman yang menyerupai aroma buah-buahan. Contohnya, isopentil asetat memiliki aroma pisang dan etil butirat beraroma nanas. Dengan praktikum ini, praktikan akan lebih memahami cara untuk menentukan konstanta kecepatan yang terjadi pada reaksi esterifikasi.




3.2 DASAR TEORI 
            Asam alkaloat atau lebih dikenal sebagai asam karboksilat adalah golongan asam organik yang memiliki gugus fungsional karboksilat (COOH), secara mudah gugus karboksilat adalah gabungan dari gugus karbonil dan hidroksi.
                                      O
                                 R–C––OH
            Gambar 3.1 Gugus Karboksilat
Asam karboksilat mempunyai rumus umum CnH2nO  sifat asam dari senyawa ini adalah asam lemah dalam pelarut air, sebagian molekulnya terioniasasi dengan melepaskan proton H+. Asam karboksilat yang memiliki dua gugus karboksilat (alkanadioat), jika tiga disebut asam dikanadioat atau asam trikarbokasilat dan seterusnya (Zulfikar,2010:1).
            Ester atau alkil alkaloat merupakan senyawa turunan asam alakaloat dengan mengganti gugus karboksil (-OH) dan gugus –OR, sehingga senyawa alkil alkanoat mempunyai rumus umum R-COOR. Sifat senyawa ester antara lain:
a.       Pada umunya mempunyai bau yang harum, menyerupai bau buah-buahan.
b.      Senyawa ester pada umumnya sedikit larut dalam air.
c.       Ester lebih mudah menguap dibandingkan dengan asam atau alkohol pembentuknya.
d.      Ester merupakan senyawa karbon yang netral.
e.       Ester dapat mengalami reaksi hidrolisis.
f.       Ester dapat mereduksi dengan H2 menggunakan katalisator Ni dan dihasilkan dua buah senyawa alkohol.
g.      Ester khususnya minyak bereaksi dengan basa menbentuk garam dan gliserol, reaksi ini dikenal dengan reaksi safonifikasi (Putranto,2009:1).
Ester dihasilkan apabila asam karboksilat dan alkohol dipanaskan bersama dengan bantuan katalis asam. Katalis ini biasanya asam sulfat pekat. Gas hidrogen klorida terkadang digunakan, tetapi penggunaannya cenderung melibatkan ester-ester aromatik (ester dimana asam karboksilat mengandung sebuah cicin benzen). Reaksi penggeseran (esterifikasi) berjalan lambat dan dapat balik atau reversible. Untuk persamaan reaksi antara asam RCOOH dengan alkohol R´OH (diamana R dan R´ bisa sama atau berbeda) adalah sebagai berikut:          
               O                                                           O      
                  R– C – OH      + R’OH     R– C – OR’ + H2O
Gambar 3.2 Reaksi asam karboksilat dan alkohol
(Clark,2007:1).
            Reaksi esterifikasi bersifat reversible. Untuk memperoleh redomen tinggi dari ester itu, kesetimbangan harus digeser ke arah sisi ester. Satu teknik untuk mencapai ini adalah menggunakan salah satu zat pereaksi secara berlebihan, teknik lain ialah membuang salah satu produk dari dalam campuran reaksi, misalnya dengan destilasi air secara azeotropik. Ester fenil (RCO2C6H5) umumnya tidak dibuat secara langsung dari fenol dan asam karboksilat karena kesetimbangan lebih cenderung bergeser ke sisi ester (Fessenden, 1986:84).
            Ester karboksilat sederhana adalah senyawa netral. Molekulnya polar tetapi tak dapat membentuk ikatan hidrogen dengan sesamanya. Senyawa ini kurang larut dalam air dan bertitik didih lebih rendah dibanding karboksilat asalnya. Ester dapat berikatan hidrogen dengan air. Ester dapat berbobot yang terdiri dari empat atau lima karbon hanpir tidak larut dalam air. Ester dalam asam dan alkohol, yang berbobot molekul rendah, berbau enak. Senyawa ini mudah menguap dari buah-buahan dan bunga-bungaan, yang mencirikan rasa atau baunya. Banyak dari ester ini dapat disintesis di laboratorium dan digunakan untuk membuat cita rasa buatan pada makanan dan minuman. Cita rasa alami biasanya terdiri dari campuran ester yang rumit (Willbraham,1992:148).
            Laju esterifikasi suatu asam karboksilat bergantung terutama pada halangan storik dalam alkohol dan asam karboksilatnya. Kuat asam dari asam karboksilat hanya memainkan peranan kecil dalam laju pembentukan ester. Seperti banyak reaksi aldehida dan keton, esterifikasi suatu asam karboksilat berlangsung melalui serangkaian tahap protonasi dan deprotonasi. Oksigen karbonil diprotonasi, alkohol nukleofilik karbon positif, dan eliminasi air akan menghasilkan ester yang dimaksud. Mekanisme ini dapat ditulis sebagai berikut:

              O                                                   OH                               O  
         R– C – OH      + R’OH     R– C – OH      R– C – OR’ + H2O
            (suatu asam karbosilat)                      OH                         (suatu ester)
            Gambar 3.3 Mekanisme pembentukan ester
(Fessenden,1992:83).
            Reaksi-reaksi senyawa asam karboksilat dan ester yaitu:
1.      Reaksi penetralan, reaksi antara asam kerboksilat dan basa menghasilkan garam dan air.
2.      Reaksi esterifikasi, reaksi antara asam karboksilat dan alkohol menghasilkan ester dan air.
3.      Reaksi hidrolisis, reaksi antara ester dan air dalam suasana basa menghasilkan garam dan alkohol.
Suasana basa menghasikan garam dan alkohol. Pada reaksi pembentukan sabun, maka ester  yang digunakan adalah suatu lemak (trigeserida) dengan KOH menghasilkan suatu garam lemak (sabun) dan gliserol (Hamdani,2010:1).
Selain trigleserida, biasanya ester sederhana lain dari asam lemak rantai panjang ditemukan dalam tumbuhan, sementara trigleserida biasanya berfungssi sebagai komponen cadangan makanan, ester asam lemak lain rupanya lebih berperan dalam selaput pelindung pada daun, buah, batang dan sebagainya. Ester ini merupakan kandungan kimia bahan yang dari segi barang dikenal sebagai malam, kutin, gabus, dan sebagainya (Robinson,1995:93).
Esterifikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah struktur molekul dari alkohol, suhu, dan konsentrasi reaktan maupun katalis. Kereaktifan alkohol terhadap esterifikasi:
CH3OH > alkohol primer > alkohol sekunder > alkohol tersier.
Kereaktifan asam karboksilat terhadap esterifikasi:
HCOOH > CH3COOH > RCH3COOH > R2CHCOOH > R3CCOOH
(Seran,2012:1).
                              


3.3.1        METODOLOGI PERCOBAAN

3.3.2        Alat


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah labu leher tiga, erlenmeyer 100 mL dan 250 mL, gelas beker 250 mL, pipet gondok 5 mL dan 10 mL, pipet tetes, thermometer, kondensor, sudip, gelas ukur 250 mL dan 50 mL, labu didih 250 mL, buret 50 mL, statif, pemanas mantel, hot plate stirrer, pengaduk gelas, neraca analitik, propipet, corong,stirrer, cawan porselin dan botol semprot.



Deskripsi Alat :

Gambar 3.4 Rangkaian Alat Esterifikasi


Keterangan :   
1.Labu leher tiga           
2. Kondensor
3. Termometer               
4. Stop kontak
                     5. Magnetic stirrer                  
                     6. Statif dan klem
                     7. Pemanas mantel



 


Gambar 3.5 Rangkaian Alat Penentuan Asam dan Titrasi Blanko


Keterangan :   
1. Pendingin bola          
2. Statif dan klem
3. Erlenmeyer                
4. Stop kontak
                     5. Kompor listrik  



Keterangan :   
1.Buret           
2.Statif dan klem
3.Erlenmeyer          

Gambar 3.6 Rangkaian Alat Titrasi



3.3.3        Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah asam asetat glacial, etanol absolute, HCl standar 0,1 N, KOH 1,5053 gram, asam sulfat pekat, NaOH 0,0935 N, akuades dan indikator pp.

3.3.4        Prosedur Kerja
3.3.4.1  Standarisasi larutan NaOH
1.      Diambil 10 mL larutan NaOH dengan pipet gondok dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer  100 mL.
2.      Ditambahkan 3 tetes indikator PP.
3.      Buret asam diisi dengan larutan HCl dengan konsentrasi 0,1 N.
4.      Dititrasi NaOH dengan HCl sampai berubah warna dari merah muda menjadi bening.
5.      Titrasi dihentikan dan dicatat volume titran.
6.      Dilakukan sebanyak 2 kali dengan volume NaOH yang sama.

3.3.4.2  Pembuatan Cuplikan
1.      Larutan cuplikan dibuat dengan perbandingan asam asetat dengan eanol 1:3.
2.      Diambil 7,5 mL asam asetat glacial dan diencerkan dengan akuades sampai volume 50 mL.
3.      Dipipet 35 mL etanol dan diencerkan dengan akuades sampai volume 150 mL.
4.      Dicampurkan asam asetat dengan etanol yang sudah encer ke dalam labu leher tiga dan diaduk dengan magnetic stirrer sampai homogen.

3.3.4.3  Pembentukan Kadar Asam Asetat Awal
1.      Diambil 5 mL campuran dan dimasukkan dalam erlenmeyer 100 mL.
2.      Ditambahkan 3 tetes indikator pp.
3.      Cuplikan dititrasi dengan larutan NaOH standar 0,1 N sampai terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda.
4.      Dicatat volume titrannya.
5.      Diulangi percobaan sebanyak 2 kali.

3.3.4.4  Penentuan Larutan KOH Alkoholis (Blanko)
1.      Ditimbang 1,5053 gram KOH dan dilarutkan dalam etanol sebanyak 200 mL ke dalam gelas beker.
2.      Diambil 50 mL larutan KOH alkoholis sebanayak 2 sampel dan dimasukan ke dalam erlenmeyer 100 mL dan ditambahkan indikator pp 3 tetes.
3.      Alat dirangkai seperti gambar 3.4 dan proses dijalankan selama 40 menit kemudian didinginkan.
4.      Sampel dititrasi dengan HCl 0,1 N hingga terjadi perubahan warna dari merah muda menjadi bening.
5.      Dicatat volume titrasi.

3.3.4.5  Pembuatan Ekivalen Asam Total
1.      Alat dirangkai seperti gambar 3.4 dan menghidupkan pemanas mantel pada skala 7 serta dialirkan air pendingin selama 1 jam.
2.      Ditambahakan asam sulfat 4 tetes dalam sisa campuran asam pada percobaan penelitian kadar asam asetat awal.
3.      Diambil 5 mL cuplikan sebanyak 2 sampel dari labu leher tiga dan dimasukan dalam erlenmeyer 100 ml.
4.      Sisa cuplikan dipanaskan kembali dalam labu leher tiga selama 1 jam untuk ditentukannya ekivalen asam bebas.
5.      Ditambahkan 50 mL KOH alkoholis, 3 tetes indikator PP dan dipanaskan selama 1 jam.
6.      Dititrasi dengan HCl 0,1 N sampai berubah warna dari merah muda menjadi bening.
7.      Dicatat volume titrasi.



3.3.4.6  Penentuan Ekivalen Asam Bebas
1.      Cuplikan sisa sampel didinginkan yang telah dipanaskan.
2.      Diambil 5 mL cuplikan sebanyak 2 sampel. Dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 mL.
3.      Ditambahkan 3 tetes indikator pp untuk setiap sampel.
4.      Cuplikan dititrasi dengan larutan NaOH yang telah distandarisasikan sampai terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda.
5.      Dicatat volume titrasi.

  

3.4 HASIL PENGAMATAN

3.4.1 Data Hasil Pengamatan
Tabel 3.1 Standarisasi Larutan NaOH
No
Langkah Percobaan
Hasil
1

2

3
Mengambil larutan NaOH, setelah membuat larutan NaOH 0,1 N sebanyak 200 mL.
Menambahkan 3 tetes indikator pp.

Mentitrasi dengan larutan HCl 0,1 N
V = 10 mL

Larutan berwarna merah muda
V1 = 9,4 mL
V2 = 9,3 mL
Vrata-rata = 9,35 mL
Warna larutan bening

Tabel 3.2 Pembuatan Cuplikan
No
Langkah Percobaan
Hasil
1
2
3
4
5
Mengambil asam asetat glacial
Mengencerkan dengan akuades
Mengambil etanol absolute
Mengencerkan etanol absolute dengan akuades
Memasukkan ke dalam labu leher tiga, memanaskan dan mengaduk dengan magnetic stirrer.
V = 7,5 mL
V = 50 mL
V = 35 mL
V = 150 mL
Perbandingan asam asetat glacial dengan etanol 1:3









Tabel 3.3 Menentukan  Kadar Asam Asetat Awal
No
Langkah Percobaan
Hasil
1
2

3
Mengambil larutan campuran
Memasukkan ke dalam erlenmeyer dan menambahkan 3 tetes indikator PP
Menitrasi larutan dengan NaOH
V = 5 mL
Warna larutan bening

V1 = 36,5 mL
V2 = 35,5 mL
Vrata-rata = 36 mL
Warna larutan merah muda

Tabel 3.4 Penentuan Larutan KOH Alkoholis (Blanko)
No
Langkah Percobaan
Hasil
1
2
3

4


5

6
Menimbang KOH
Melarutkan dengan etanol
Mengambil larutan  KOH alkoholis sebanyak 2 sampel
Memasukkan masing-masing sampel ke dalam labu didih dan menambahkan 3 tetes indikator PP
Merangkai alat, menjalankan sampai 1 jam dan mendinginkan
Menitrasi dengan larutan HCl 0,1 N
m = 1,5053 gram
V = 200 mL
V = 50 mL

Warna larutan merah muda



V1 = 53,7 mL
V2 = 54,1 mL
Vrata-rata = 53,9 mL
Warna larutan menjadi bening




Tabel 3.5 Penentuan Ekivalen Asam Asetat Total
No
Langkah Percobaan
Hasil
1


2
3
4
5

6

7
Menghidupkan pemanas mantel pada skala 7 dan motor pengaduk pada skala 3, mengaliri air pendingin selama 1 jam.
Menambahkan 4 tetes asam sulfat pekat
Mengambil sebanyak 2 sampel
Menambahkan larutan KOH
Menambahkan 3 tetes indikator PP

Melakukan pemanasan selama 1 jam dan mendinginkan
Mentitrasi dengan larutan HCl 0,1 N







V = 5 mL
V = 50 mL
Warna larutan merah muda

V1 = 16,6 mL
V2 = 18,8 mL
Vrata-rata = 17,7 mL
Warna larutan bening

Tabel 3.6 Penentuan Ekivalen Asam Bebas
No
Langkah Kerja
Hasil
1
2

3
4
Mendinginkan sisa cuplikan
Mengambil cuplikan sebanyak 2 sampel dan memasukkan ke dalam erlenmeyer
Menambahkan 3 tetes indikator PP
Mentitrasi dengan larutan NaOH

V2 = 5 mL

Warna larutan bening
V1 = 34,2 mL
V2 = 34 mL
Vrata-rata = 34,1 mL
Warna larutan merah muda



3.4.2 Pembahasan
3.4.2.1 Standarisasi larutan NaOH
            Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi larutan standar NaOH dengan cara menstandarisasikannya dengan larutan HCl 0,1 N. Penambahan indikator pp digunakan karena larutan yang dititrasi bersifat basa dan pH pada titik ekivalennya tercakup dalam kisaran pH indikator pp yaitu 8,0-9,6. Hasil akhir titrasi ditunjukkan dengan perubahan warna larutan dari merah muda menjadi bening (tidak berwarna) karena tercapainya titik ekivalen. Perubahan warna ini juga disebabkan oleh perubahan warna indikator pp yang tidak berwarna pada suasana asam. Ketika titrasi telah mencapai titik ekivalen larutan NaOH telah terstandarisasikan. Konsentrasi larutan NaOH dari hasil perhitungan adalah  0,0935 N. Reaksi yang terjadi adalah :
NaOH   +    HCl                       NaCl    +   H2O 
    
3.4.2.2 Pembuatan Cuplikan
            Larutan cuplikan pada percobaan ini digunakan sebagai larutan sampel, yang dibuat dari campuran asam asetat dan etanol dengan perbandingan 1:3. Tujuan perbandingan asam asetat dan etanol sebanyak 1:3 adalah etanol lebih cepat menguap daripada asam asetat. Selain itu untuk membuat ester dengan hasil yang tinggi, karena apabila konsentrasi salah satu pereaksi diperbesar, maka kecepatan reaksi ke kanan akan menjadi lebih besar, yang berarti ester yang terbentuk menjadi lebih banyak . Etanol memiliki titik didih yang jauh lebih kecil dari asam asetat. Titik didih etanol adalah 78,5o C, sedangkan titik didih asam asetat adalah 117,9o C. Larutan dipanaskan untuk mempercepat reaksi yang terjadi antara asam asetat dan etanol dan bercampur homogen. Reaksinya yaitu :
CH3COOH + CH3CH2OH CH3COOCH3CH2 + H2O
As.asetat               etanol                          etil asetat         air       
Reaksi tersebut disebut dengan reaksi esterifikasi. Reaksi ini bersifat reversible, maksudnya apabila suatu reaksi kimia dilangsungkan selama waktu tertentu di dalam suatu reactor, maka selain hasil reaksi didalam reactor juga didapat sejumlah reaktan yang belum bereaksi. Adapun metode pengadukan menggunakan magnetic stirrer adalah untuk mempercepat tejadinya reaksi.

3.4.2.3 Penentuan Kadar Asam Asetat Awal
            Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi awal asam asetat (Ao) yang akan digunakan untuk menghitung konversi reaksi. Bahan yang digunakan pada percobaan ini diambil dari cuplikan (campuran asam asetat dan etanol). Ketika larutan ditambahkan dengan indikator pp, warna larutan tidak berubah (tidak berwarna) karena dalam keadaan asam. Larutan ditambahkan NaOH untuk menetralkan asam karboksilat sehingga dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi asam asetat. Reaksi yang terjadi adalah reaksi kesetimbangan, sehingga reaksi tidak pernah berhenti. Hasil akhir larutan setelah dititrasi dengan NaOH adalah perubahan warna dari bening menjadi merah muda. Volume rata-rata yang digunakan titran adalah sebesar 36 mL dari hasil perhitungan didapatkan konsentrasi asam asetat awal yaitu sebesar 0,4488 N. Reaksi yang terjadi adalah :
        CH3COOH   +   NaOH            CH3COONa    +  H2O
                    asam asetat                                        natrium asetat

3.4.2.4 Penentuan Larutan KOH Alkoholis
            Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan volume titran HCl yang akan digunakan untuk perhitungan asam asetat total. Reaksi pengenceran KOH alkoholis (blanko) dengan etanol adalah :
CH3CH2OH   +   KOH                   CH3CHOK   +   H2O
                                                     Kalium metoksida
Larutan ditetesi dengan indikator pp dan berubah warna menjadi merah muda karena dalam keadaan basa untuk dititrasi. Hasil akhir titrasi adalah perubahan warna larutan menjadi bening (tidak berwarna). Sebelum dilakukan penitrasian, terlebih dahulu melakukan pemanasan yang akan menyebabkan terurainya (terhidrolisisnya) dari KOH dan membentuk ion-ionnya dengan energi kinetik yang semakin besar dan pergerakannya semakin cepat. Meningkatnya OH- membuat warna larutan menjadi semakin tua merahnya akibat keberadaan indikator pp. Hasil percobaan volume titran rata-rata yang digunakan pada titrasi ini adalah 53,9 mL. Adapun reaksi yang terjadi adalah :
CH3CHOK   +   HCl                   CH3CHOH + KCl
Kalium metoksida

3.4.2.5 Penentuan Ekivalen Asam Total
            Penentuan ekivalen asam total merupakan komponen yang penting untuk menghitung konversi. Percobaan dilakukan dengan menambahkan 4 tetes H2SO4 dalam cuplikan. H2SO4 berfungsi sebagai katalis untuk meningkatkan kecepatan reaksi esterifikasi dengan cara menurunkan energi aktifasinya, sehingga reaksi dapat berjalan dan prosesnya dapat berlangsung cepat. Reaksi yang terjadi yaitu :
            CH3COOH + CH3CH2OH               CH3COOCH2CH3 + H2O
            Penambahan KOH pada cuplikan dimaksudkan untuk memberikan suasana basa agar dapat dititrasi dengan HCl. Pemanasan yang dilakukan akan meningkatkan energi kinetik molekul-molekul sehingga mereka bergerak semakin cepat yang akan menghasilkan frekuensi tumbukan antar molekul yang akan meningkat sehingga reaksinya pun semakin cepat. Hasil akhir dari titrasi dengan HCl ditunjukkan dengan perubahan warna larutan dari merah muda menjadi bening (tak berwarna). Volume rata-rata titran yang digunakan pada titrasi ini sebesar 17,7 mL. Konsentrasi asam total yang didapat dari hasil perhitungan adalah sebesar 0,724 N. Reaksi yang terjadi adalah :
                  CH3COOH  +  C2H5OK                     CH3COOC2H5 + KOH
Pada saat reaksi H2SO4 tidak mengalami perubahan yang kekal, karena H2SO4 hanya sebagai katalis yang digunakan untuk mempercepat reaksi tersebut.

3.4.2.6 Penentuan Ekivalen Asam Bebas
              Percobaan ini dilakukan untuk memperoleh konsentrasi asam bebas yang akan digunakan pada penentuan konversi reaksi. Ketika ditambahkan indikator pp warna larutan tidak berubah (tidak berwarna) karena dalam keadaan asam untuk dititrasi dengan NaOH. Larutan dititrasi dengan NaOH agar terjadi reaksi hidrolisis, sehingga reaksi tersebut sempurna. Asam karboksilat dilepaskan dari kesetimbangan dengan mengubahnya menjadi garam. Garam organik tidak bereaksi dengan alkohol sehingga reaksi tersebut merupakan reaksi tidak dapat balik. Hasil titrasi pertama sebesar 52,5 mL dan pada titrasi kedua sebesar 51,9 mL. Hasil akhir titrasi adalah perubahan warna larutan menjadi merah muda. Reaksi yang terjadi yaitu :
                 CH3COOC2H5  +  NaOH               CH3COONa  +  C2H5OH
Hidrolisis ester dengan basa disebut reaksi penyabunan.
              Data yang diperoleh dari percobaan ini, sehingga dapat dihitung konsentrasi asam asetat bebas (Aa) sebesar 0,6376 N. Dengan diperoleh nilai Ao sebesar 0,4488 N, At sebesar 0,724 N dan Aa sebesar 0,6376 N maka dapat dihitung konversi reaksi, yaitu sebesar 19,2513%.


3.5  PENUTUP

3.5.1  Kesimpulan
                Yang dapat disimpulkan dari pecobaan ini adalah konversi reaksi yang didapat dari hasil percobaan ini adalah sebesar 19,2513%. Asam sulfat sebagai katalisator yang merupakan ekivalen dari asam basa dengan nilai sebesar 0,6376 N dan nilai dari asam totalnya sebesar 0,724 N.

3.5.2 Saran
            Saran yang dapat diambil dari percobaan ini adalah praktikan harus teliti dalam menggunkan bahan kimia dan berhati-hati memakai peralatan-peralatan agar tidak tejadi kecelakaan dalam percobaan.





DAFTAR PUSTAKA


Clark, Jim. 2007. Pembuatan Ester.
http://chem-is-try.org/
            Diakses pada 23 Februari 2013.

Fessenden,Ralph.J  and Fessenden,Joan.S. 1986. Kimia Organik Jilid 2. Binarupa
Aksara. Jakarta.

Putranto, Dody.2009. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Erlangga.
Jakarta.

Robinson, tevlor.1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi.ITB. Bandung.

Seran, Emil.2012. Turunan Asam Karboksilat:Ester.
            http://wanibosak.wordpress.com/
            Diakses pada 23 Maret 2013.

Wlibraham, A.C. 1992.Kimia Organik dan Hayati.ITB.Bandung.

Zulfikar.2010.Asam Alkanoat.
            http://kimiadahsyat.blogspot.com
            Diakses pada 24 Februari 2012.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 saran & kritik:

Posting Komentar